Covid-19 dan Propaganda Media

Sesditjen P2P Kemenkes Achmad Yurianto menyampaikan informasi mengenai perkembangan Covid-19 di Indonesia. (Foto: Setkab)

Dalam dua bulan belakangan ini, jagat Nusantara diguncang dengan kehadiran “tamu tak diundang” yang merebak menghapus jejak pelataran diskusi terkait hilangnya eks-kader PDIP Harun Masiku, omnibus law, dan konflik intoleransi yang menjadi trending topic di berbagai media massa hingga layar televisi.

Ketiga kasus tersebut nampak ikut “terjangkit” oleh virus Corona jenis baru (Covid-19) sehingga lenyap ditelan waktu. Ibarat senja, kehadirannya selalu manjakan mata sembari tenangkan batin. Namun, selepas pergi sebelum malam, rupanya ada seutas kerinduan bahkan lara yang ditinggalkan. Kira-kira, analoginya seperti itu.

Kian hari, pemerintah sibuk wartakan sabda kewaspadaan kepada segenap elemen masyarakat terkait penularan Covid-19 yang bagi mereka sangat membahayakan. Bahkan, Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Laiskodat menganjurkan solusi alternatif yakni, memperbanyak konsumsi daun kelor demi meningkatkan stimulus antibodi.

Pernyataan Gubernur memang terkesan humor – selalu mencari kesempatan di balik kesempitan demi kelancaran brand yang sedang dikelola oleh pemerintah provinsi NTT walau hingga sekarang masalah stunting di NTT belum bisa teratasi. Ini menunjukkan bahwa produk daun kelor dikapitalisasi sehingga dampak bagi kesehatan dan juga perekonomian masyarakat tidak efektif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *