Kekerasan Sexsual Terhadap Anak Di Siantar Masuk Zonah Merah

Kapolres: Tidak Ada Kata Damai Bagi Pelaku

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Poto Bersama Kapolres Siantar, AKBP Budi Pardamean Saragih usai melakukan beberapa penjelasan terkait kekerasan Sexsual terhadap anak

SIANTAR24JAM.COM ā€“ Kurun waktu tiga tahun ini, termasuk dimassa Pandemi Covid-19, kasus kekerasan Sexsual terhadap anak terus meningkat. Bahkan, sudah berada dalam Zonah Merah. Meski begitu, ketua umum komnas perlindungan anak Arits Merdeka Sirait, mengapresiasi kinerja Polres Siantar yang sudah cepat dalam menangani kasus.

“Dalam sebulan ini saja, dalam massa pandemi, Kasat Reskrimnya sudah melaporkan sama kita soal kasus kekerasan sexsual terhadap anak di Siantar. Apalagi, Polres Siantar ini dengan pasti memberikan perhatian pada anak-anak sebagai pelaku, dan sebagai korban utama,” ujarnya Senin (27/7) sore sekira jam 18.24 WIB.

Lebih lanjut, Arist Merdeka Sirait yang peduli dengan keberadaan anak-anak Siantar menegaskan bahwa Polres Siantar juga tidak sama sekali memberikan toleransi terhadap kerasan Sexsual anak.” Bisa kita saksikan sendiri disini, bahwa Kapolres Siantar AKBP Budi Pardamean Saragih tadi mengatakan tidak ada kata damai bagi pelaku,” jelasnya.

Dengan dasar itu, pihaknya juga akan memberikan penghargaan sebagai bukti komitmen bahwa Polres Siantar bekerja cepat dalam menindak para pelaku. Sementara, Kapolres Siantar Akbp Budi Pardamean Saragih, tampak mengucapkan rasa terimakasihnya atas penghargaan tersebut. “Jadi, adapun kasus seperti ini, kita selalu mengupayakan kecepatan dalam mengungkap kasus,” paparnya.

Dipenghujung waktu, Arist Merdeka Sirait menyampaikan. Dalam kerangka melindungi dan menjaga anak dari kekerasan dan perlakuan salah terhadap anak. Menurutnya, untuk menggeser posisi Siantar dari Zona Merah Darurat Kekerasan Seksual Terhadap Anak ke Zona aman serta untuk memutus mata rantai kekerasan terhadap anak. Dirinya mengaku, selain komitmen penegakan hukum yang berkeadilan. Pihaknya akan menempatkan Kasus Kejahatan seksual sebagai kejahatan luar biasa.

“Jadi, sudah saatnya di seluruh wilayah kota Siantar berdasarkan mekanisme Perda Perlindungan Anak yang disiapkan mengatur di setiap Kelurahan, RT dan RW  perlu dibangun gerakan Perlindungan Anak berbasis peran,” ujarnya sembari meminta agar masyarakat Siantar perlu membangun gerakan sisada anak sisada boru. Yakni dengan menggunakan strategi pendekatan, guna menjaga Anak dan melindungi Anak harus dilakukan oleh masyarakat Sekampung atau Sahuta. (yud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *