Kondisi Warga Miskin Penderita Infeksi Kulit Semakin Parah

Kabid Sosial Dinsos P3A Sebut Lurah Belum Melapor

Kondisi Selamet Juliadi yang sedang mendapat perawatan di RD Tentara

SIANTAR24JAM.COM – Sampai detik ini, kondisi tubuh Selamet Juliadi (47), penderita infeksi kulit dan gangguan saraf tampak semakin parah. Bahkan, pihak rumah sakit mengarahkan pihak keluarganya, agar Selamet Juliadi segera untuk dirujuk ke rumah sakit yang berada di Kota Medan.

“Tangannya makin parah dan bengkak, rumah sakit ini bilang suami saya harus dirujuk ke rumah sakit kota medan. Kami pun bingung dana dari mana lagi, mohonlah pak kepada siapa saja yang bisa membantu, tolong saya,” harap sang istri Mulyani Sabtu (15/8) sore sekira jam 17.00 WIB.

Sementara itu, kabar sakit yang diderita Selamet, ternyata sudah sampai ke Kabid Sosial Dinsos P3A, kota siantar yang dijabat Resbon Sinaga. Namun, pihaknya menilah jika lurah Melayu masih belum melaporkan warganya yang miskin dan sakit tersebut.

“Informasi ini sudah saya dapat, tapi lurahnya sejauh ini belum ada melapor sama kita,” jelasnya. Disinggung, tindakan apa yang akan dilakukan dari dinas sosial sendiri terkait itu? Resbon mengaku akan perjuangkan Selamet Juliadi untuk diberikan bantuan sembako.

“Kalau tupoksi kita untuk perobatan kan tak ada. Maka kita tunggu dulu lurahnya melapor biar bisa kita kasih bantuan sembako. Tapi, kalau masalah tunggakan BPJSnya, kita bisa alihkan itu ke Penerima Bantuan Iuran (PBI). Ya itupun harus dilunasi dia dulu tunggakan yang tiga tahun,” akhirnya singkat.

Sementara, ditempat terpisah Sabtu (15/8) siang sekira jam 13.00 WIB sampai sore sekira jam 17.27 WIB. Lurah Melayu yang dijabat oleh Makdin Sagala juga masih belum berhasil dikonfirmasi, meskipun nomor handphone miliknya terlihat aktif dan berdering saat ditelepon awak media ini.

Sebelumnya, Selamet Juliadi (47), warga Jalan Sriwijaya Nomor 38, Kelurahan Melayu, Kecamatan Siantar Utara, menderita penyakit infeksi kulit hampir disekujur tubuh. Mengingat perekonomian keluarganya yang sulit (miskin), sang istri yang sudah buntuh dan tak tahan melihat suaminya terus kesakitan.

Akhirnya beranikan diri untuk membawa Selamet ke RS Tentara. Kepada awak media ini, Jumat (14/8) sore sekira jam 17.30 WIB, Mulyani (40) selaku istri menyampaikan, kalau penyakit infeksi kulit yang diderita suami tercintanya tergolong baru seminggu.

Berawal dari sakit saraf ketika pernah terjatuh dari atas loteng saat manjat.” Tadinya sudah mau setahun lah itu pernah terjatuh dari loteng rumah orang. Jadi terganggulah sarafnya, tak pernah kami obati. Baru seminggu ini, timbul sakit kulitnya kayak melepuh kena bakar, tangan juga membengkak. Kami pun warga susah, pak,” sedihnya ditemui di Rs Tentara.

Dituturkan Mulyani, dirinya nekat membawa suami berobat ke Rs Tentara, menggunakan uang pinjaman dari orang-orang dan belas kasih dari majikannya. Berhubung, kartu bpjs miliknya sudah tiga tahun tak terbayar sehingga tidak bisa dipakai lagi untuk melakukan perobatan.

“Saya sudah bingung, BPJS tiga tahun belum dibayar, kek manalah pak. Suami kerjanya tukang jahit dirumah, selama covid pengasilan kadang nggk ada. Saya pun kerjanya pembantu rumah tangga, jadi ini saya pinjam uang untuk bawa suami kesini,” jelas Mulyani yang bekerja sebagai cuci gosok.

Sebelum dibawa ke Rs Tentara, Selamet Juliadi sempat dibawa berobat ke tempat praktek Dr Candra Jalan Jawa, Kota Siantar. Hasilnya, tangan kanan Selamet yang bengkak ternyata karena penyumbatan darah dan infeksi kulit. Namun, setelah beberapa hari berlalu, sakitnya tak kunjung sembuh.

“Sudah disuntik beberapa kali, tapi belum ada reaksi. Sedangkan suami saya terus mengerang kesakitan dan merasa panas di tubuhnya. Saya tak tahan, karena itulah pak, saya beranikan diri untuk membawa nya ke Rs Tentara. Tapi hasilnya, Dr bilang besok,” keluhnya Mulyani yang sudah dikaruniai dua anak.

Sementara, jika berobat di Rs Tentara tidak juga membuahkan hasil. Mereka sudah tidak tahu lagi, mau mencari uang kemana. Apalagi, biaya berobat selama dirumah sakit, terbilang mahal.” Ini saya pasrah saja dan terima hasilnya. Kalaupun disini tidak sembuh juga, saya akan membawanya kemana saja berharap bisa sembuh,” tambahnya.

Melihat kondisi yang diderita semakin parah, Mulyani mengaku berat badan sang suami turun drastis. Dari 70 Kg, saat ini menjadi 40 Kg. Bahkan, mata terlihat semakin menonjol keluar dan bagian wajah ikut susut.” Turunya drastis pak, langsung 30 kilo susutnya. Anak saya ada dua, sudah putus sekolah tersandung biaya pak,” imbuhnya lagi.

Saat ini, Mulyani hanya bisa berharap kepada pihak pemerintah, agar sudih kiranya dapat membantu mengaktifkan surat BPJS miliknya yang mati, agar bisa dipergunakan lagi untuk perobatan gratis.

“Tolong pak pejabat, pak DPRD, siapa saja yang mau membantu kami ini warga yang susah. Kami mohon pak,” tutupnya yang selama covid ini mengaku belum ada terima bantuan PKH dan bantuan sosial lainnya. (yud)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *