Pengungsi Sinabung Memprihatinkan

MARPES PEDULI SINABUNG KEMBALI KUNJUNGI PENGUNGSI

Oleh: Raen Yoesz

MARPES Peduli kunjungi pengungsi Sinabung

SIANTAR24JAM.COM – TANAH KARO, – Minggu menjelang senja (29/08) sekira pukul 14.30 WIB, cuaca di Tanah Karo cenderung gelap karena langit masih tertutup asap hitam. Dari kejauhan, puncak Gunung Sinabung terlihat kokoh dan garang sambil sesekali memuntahkan abu tipis vulkanik.

Rombongan Mantan Anak Rindam Pematangsiantar disingkat (MARPES),
saat itu baru tiba di lokasi pengungsian, tepatnya di gedung Serbaguna KNPI Kota Kabanjahe yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Tanah Karo. Kedatangan MARPES kedua kali mendapat sambutan sangat hangat dari para pengungsi. Rasa bosan dan jenuh menanti relokasi hingga kini tak jua kunjung terobati.

Setahun setengah sudah para pengungsi menyesaki gedung Serbaguna KNPI, kunjungan masyarakat ke lokasi itu mulai surut dengan sendirinya. Mereka tak tau kapan semuanya akan berakhir. Tinggal di rumah dan berkumpul serta bercanda bersama keluarga, saat-saat yang tak pernah mereka rasakan lagi dimulai saat pasca bencana Gunung Sinabung meletus.

“Yah, kunjungan apalagi bantuan dari masyarakat sudah mulai sepi pak,” ujar salah, seorang pengungsi menyambut kedatangan MARPES. “Bantuan masih cukup, masih adalah bantuan dari pemerintah yang dicukup-cukupkan kepada seribu dua ratus jiwa” tambah pria yang menjaga posko dan bagian penerimaan bantuan bagi pengungsi.

Kawasan pekarangan gedung Serbaguna KNPI tidak banyak terlihat anak-anak yang bermain. Mereka memilih berkumpul di teras gedung sambil menatap ke arah pintu gerbang masuk. Tatapan mereka begitu penuh harapan yang sangat mendalam. Siapa saja orang yang datang ke lokasi pengungsian, mereka seolah tak mau luput untuk meperhatikannya. Ada pesan seolah mereka berharap uluran tangan.

Dilokasi pengungsi korban sinabung

Cuaca semakin gelap, mendung bergulung dan hujan pun turun dengan lebatnya. Sebagian ibu-ibu muda bahkan yang tua renta, bersesak di sepanjang teras untuk berlindung dari gempuran air hujan. Kelompok MARPES ikut berteduh di antara sesaknya lokasi pengungsian. Baik teras gedung mau pun seluruh ruang di dalamnya, ratusan tubuh pengungsi sudah memadatinya.

Tidak banyak aktivitas di pengungsian saat itu, tidak tampak pula masyarakat dari luar daerah mau pun seputaran Kabanjahe dan Berastagi ramai berkunjung di lokasi penampungan itu. Di awal-awal bencana Gunung Sinabung meledak, tak terhitung banyaknya masyarakat berbondong-bondong menyalurkan sumbangan bagi para pengungsi. Berbeda dengan saat ini, pengungsi hanya berpangku tangan dari bantuan pemerintah saja.

Korban Sinabung yang berada di gedung Serbaguna KNPI, adalah pengungsi dari korban Sinabung tahap III, Sebutan korban Sinabung tahap III lantaran mereka semua bermukim di seputaran radius 7 kilometer dari kaki Gungung Sinabung. Sedangkan tahap I dan tahap II, sudah mendapatkan daerah relokasi berupa perumahan dan lahan.

“Kami belum tahu kapan kami direlokasi pak,” keluh Boru Ginting saat diajak bincang-bincang. “Katanya, kami akan dimandirikan. Artinya kami akan mendapat bantuan sewa rumah dan lahan, entah berapa jumlah bantuan dan entah kapan kami baru mendapatkannya. Sementara ini kami hanya menunggu sambil bertahan bersesakan di dalam gedung yang difasilitasi pemerintah.

Terhitung sampe sekarang, sudah satu tahun setengah kami di sini. Berbagai konflik di antara sesama pengungsi, tak jarang terjadi. Jenuh, bosan dan tak ada kepastian, biasanya menjadi pemicu. Belum lagi, kurangnya sarana hiburan baik dari pemerintah apalagi masyarakat. “Kalau dulu, Media, LSM serta Masyarakat, mau memberikan dorongan moril terhiburlah hati kami. Tapi sekarang, kami seperti ditinggalkan,” ratapnya.

MARPES serahkan bantuanya

Kedatangan MARPES kedua kali ini menurut Boru Ginting, sangat berarti bagi mereka korban Sinabung. Walau hanya memberikan bantuan berupa masker dan buku dongeng untuk anak-anak mereka, bahwa MARPES sudah membuktikan jati diri anak bangsa yang patut dihargai. “Karena sekarang ini sudah jarang yang datang berkunjung. Kedatangan MARPES ini membuat semangat baru buat kami,” ujar Tarigan pula.

Rika menjelaskan, kunjungan kedua kali ke lokasi pengungsian murni sebagai bentuk kepedulian sosial kepada sesama pengungsi untuk saling berbagi “Kunjungan ini adalah rangkaian tali asih di akhir kegiatan Hari Ulang Tahun MARPES Yang Ke-3” setelah hampir setahun yang lalu kita membuat kegiatan sosial serupa mengatas namakan “MARPES Peduli Sinabung”

Kita berharap, perhatian terhadap korban Sinabung jangan berhenti sampai disitu saja. Jangan kita hanya disibukan dengan politik terus ternyata korban Sinabung di sini masih membutuhkan uluran tangan kita. Baik bantuan berupa materil maupun pisikologis, karena para korban sudah mulai apatis dan kecewa. Mendengarkan keluhan mereka saja, sudah berkurang beban mereka,”

Saat ini 200 lebih anak-anak korban Sinabung membutuhkan bantuan untuk kebutuhan sekolah dan kegiatan-kegiatan yang bisa mengurangi kejenuhan dan trauma anak. Ada sekitar 300 manula dan 200 balita yang masih membutuhkan perhatian khusus. “Mudah-mudahan kita masih bisa menjadi orang yang peduli dan berbagi. Mari mengulurkan tangan kita untuk memberikan bantuan. Sekecil apa pun bantuan itu sangat berharga bagi para korban bencana,” urai Rika.

Tak lupa Rika dan rombongan mengucapkan terima kasih kepada semua rekan-rekan MARPES atas partisipasi dan surpotnya, sehingga kegiatan sosial dapat kita salurkan dan diterima dengan baik. Usai memberikan bantuan tim MARPES tak langsung beranjak, mereka menyempatkan untuk memberikan hiburan kepada anak-anak korban Sinabung. Bercerita, mendongeng dan mengajak anak-anak bermain.

MARPES ditengah para pengunsi

Itulah akhir cerita kami 5 tahun yang lalu, semoga dengan kegiatan ini menjadikan kita insan yang peduli untuk bisa saling berbagi walau sekecil apapun itu bantuannya (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *